Hampir Semua Personil KPK Takut Menghadapi Proses Hukum

7 komisi III DPRTribratanewsjatim.com: Upaya menghentikan kasus penganiayaan hingga menimbulkan korban nyawa dengan tersangka Novel Baswedan, dinilai sebagai langkah yang tidak benar oleh anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Gerindra, Desmond J Mahesa.

Ditegaskan, pembuktian terhadap kasus itu tetap harus melalui proses pengadilan. “Saya nggak ngerti, hampir semua orang KPK takut menghadapi proses hukum? Ini seakan menghindari hukum.”

Menurut Desmon, kasus yang terjadi pada tersangka Novel Baswedan berlangsung saat yang bersangkutan masih menjadi anggota Kepolisian. ” Kalau semua polisi boleh menembak orang, baru bisa kasus Novel ini dihentikan,” katanya.

Jadi, langkah menghentikan perkara Novel Baswedan ini tidak benar. Karena, Polisi memiliki prosedur dalam melakukan penembakan atau tindakan terhadap tersangka kejahatan. “Biarlah pengadilan yang membuktikan.  Jangan juga ada intervensi,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif KPK Watch, Muhammad Yusuf Sahide menegaskan, dalam perkara Novel Baswedan ini status perkaranya sudah P-21. “Ini berarti penyidik sudah sangat yakin, minimal dua alat bukti sudah dipegang.  Hukum tidak boleh diintervensi, apalagi oleh kekuatan eksekutif,” katanya.

Disampaikan, upaya menghentikan perkara di tengah jalan tidak sesuai dengan asas keadian. “Soal benar atau salah, biar dibuktikan di pengadilan.

Kejaksaan harus meneruskan penuntutan. Ini baru perkara Novel Baswedan, bagaimana dengan perkara-perkara lain? Jangan ada tarik ulur. Kejaksaan ndak bisa bermain-main.

“Jadi tidak boleh ada namanya penghentian perkara demi kepentingan umum. Perkara ini harus dilanjutkan ke pengadilan, agar cepat selesai. Jangan sampai ditunda-tunda terus. Supaya jelas statusnya,” katanya.

Lagi pula, akan kasihan juga terhadap Novel Baswedan kalau kasus digantung terus. “Jangan sampai kasus ini terkatung-katung. Di pengadilan kan nanti juga banyak prosesnya. Ada pra-penuntutan, pengadilan negeri, pengadilan tinggi, sampai ke mahkamah agung. Ada peninjauan kembali, ada banding, dan sebagainya,” katanya.(tbn/mbah heru)

Masa Depan Humas Polri, Humas Dituntut Menguasai Manajemen Informasi

3 Anton CharliyanTribratanewsJatim: Selama 3 hari terhitung sejak 1 – 3 Februari 2016, sebanyak empat personil Humas Polda Sumut mengikuti kegiatan pelatihan Counter Messaging Course di Medan, yang diselenggarakan oleh International Criminal Investigative Training Assistance Program (ICITAP) Departemen Kehakiman US.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 10 Polda yaitu Polda Sumut, Polda Aceh,Polda Riau, Polda Kepri, Polda Sumsel, Polda Bengkulu, Polda Lampung, Polda Banten, Polda Bangkabelitung dan Polda Jawa Barat dengan peserta sejumlah 22 orang.

Acara dibuka oleh Karo PID Mabes Polri mewakili Kadiv Humas Polri Brigjen Pol Drs Daniel Pasaribu dan Penasehat Eksekutif ICITAP Komjen Pol (Purn) Oegroseno dan Irwasda Polda Sumut.

3 kursus humas Polri 1ICITAP sendiri menghadirkan tiga orang instruktur sebagai pemberi materi dalam pelatihan tersebut yaitu, Mr Steve dan Mr Adam dan instruktur sekaligus penerjemah adalah Iwan Maskun.

Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan peran dan kemampuan personil Humas Polda dalam mengelola Informasi, sehingga Humas Polda juga dapat meningkatkan perannya dalam menjadi penyeimbang informasi, khususnya informasi yang berkaitan dengan tugas-tugas Kepolisian dan mampu membentuk opini yang positif tentang Kepolisian di tengah- tengah masyarakat.

3 masa depan Humas PolriPelatihan tersebut berjalan dengan lancar dan suskes, para peserta tampak semangat dan selalu antusias selama proses pelatihan tersebut. Mr Steve dan Mr Adam secara bergantian dan dengan atraktif memberikan penjelasan bagaimana melakukan manajemen informasi yang baik di dunia media sosial maupun media online, konferensi pers dan media informasi lainnya.

Diharapkan oleh para peserta pelatihan tersebut, acara ini dapat menambah pengetahuan dan kemampuan masing masing personil Humas dan dapat mendukung tugas tugas kehumasan Polri.

Kepala Divisi Humas Kepolisian Republik Indonesia, Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan, Rab (3/2/2016)  menutup acara dengan berpesan kepada para peserta bahwa era zaman sekarang adalah era informasi karena itu masing- masing personil Humas dituntut agar dapat menguasai dan mengelola manajemen informasi dengan cara profesional khususnya informasi yang menyangkut tentang Kepolisian Indonesia. (tbn/mbah heru)

 

Gelar Operasi “Tumpas” Jaring Pengguna Sabu dan Pil Koplo

7 tumpas lumajangTribratanewsJatim.com: Polres Lumajang bekuk pengedar dan pengguna sabu dan pil koplo. Keberhasil ini, setelah melaksanakan kegiatan operasi “Tumpas” Semeru 2016 di kawasan Gesang, Kecamatan Tempeh, Lumajang.

Pelaku Achmad Fathoni (19) warga Dusun Krajan, Desa Pulo, dengan barang bukti yang disita 140 butir pil koplo dan HP serta uang Rp 10.000. Pelaku tertangkap di dekat sungai di Desa  Gesang.

Sedang pelaku Nanang Kuswanto (36) tertangkap di Jalan Agus Salim depan gereja, Kelurahan Jogoyudan Lumajang. Barang bukti yang disita sabu seberat 0,30 gram dan HP. Kini, Minggu (7/2/2016)  polisi masih mengembangkan kasus itu (lmj/mbah heru)

 

 

DIBUKA , Penerimaan Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana Ta 2016

Tribratanewsjatim.com – Kepolisian Negara Republik Indonesia membuka kesempatan untuk putra putri terbaik Indonesia untuk menjadi Perwira Polri dengan mengikuti seleksi masuk SIPSS atau Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana.Pendaftaran Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) T.A 2016 dapat dilakukan pada tanggal 4 – 18 Februari 2016.

Prodi yang dibutuhkan :
1.S2 Profesi Kedokteran Forensik
2.S2 Profesi Psikologi
3.S1 Profesi Kedokteran Umum
4.S1 Profesi Kedokteran Gigi
5.S1 Akuntansi
6.S1 Agama Hindu (pend agama, filsafat agama & teologi)
7.S1 Bahasa Arab
8.S1 Bahasa Mandarin
9.S1 Desain Grafis
10.S1 Hukum Pidana
11.S1 Mipa Biologi
12.S1 Mipa Kimia
13.S1 Seni Musik
14.S1 Sandi Negara
15.S1 Psikologi
16.S1 Teknik Informatika
17.S1 Teknik Elektro
18.S1 Teknik Mesin
19.S1 Teknik Nuklir
20.S1 Teknik Metalurgi
21.S1 Teknik Kimia
22.S1 Teknik Arsitektur
23.D-IV Ahli Nautika Tk. III

Lulus pendidikan berpangkat Ipda
Lulus pendidikan berpangkat Ipda

Persyaratan Umum :
-Warga Negara Indonesia (pria atau wanita)
-beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa
-setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945
-berumur paling rendah 18 (delapan belas) tahun
-sehat jasmani dan rohani (surat keterangan sehat dari institusi kesehatan minimal setingkat RSUD)
-tidak sedang terlibat kasus pidana atau pernah dipidana karena melakukan suatu kejahatan dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)
-berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela
-bersedia ditempatkan diseluruh wilayah NKRI dan bersedia ditugaskan pada semua bidang tugas kepolisian;

*umur pada saat pembukaan pendidikan:
maksimal 33 (tiga puluh tiga) tahun untuk S-2 Profesi;
maksimal 29 (dua puluh sembilan) tahun untuk S-1 Profesi;
maksimal 26 (dua puluh enam) tahun untuk S-1/D-IV;

*tinggi badan:
160 utk pria;
155 utk wanita.

*belum pernah menikah (belum pernah hamil/melahirkan);
khusus S-2 Profesi diperbolehkan sudah menikah namun bagi wanita belum mempunyai anak

*khusus untuk Prodi Kedokteran :
-bersedia ditempatkan di fungsi Brimob dan mengikuti spesialis kedokteran forensik (dibuktikan dengan surat pernyataan);
-dokter umum diutamakan yang sudah mempunyai Surat Tanda Selesai Internsip (STSI) dan Surat Tanda Registrasi (STR) definitif dan atau keterangan masih mengikuti Internsip;
-Dokter gigi menyertakan Surat Tanda Registrasi (STR) definitif;
-Dokter Spesialis menyertakan ijasah dokter spesialis;

Untuk mendaftar dan mengetahui persyaratan lebih lengkap, bisa kunjungi alamat: http://penerimaan.polri.go.id. (umam)

Tim Basarnas Banyuwangi Evakuasi Penghirup Sumur Beracun

6 bwi sumurTribratanewsJatim.com: Tiga orang meninggal dunia akibat menghirup gas beracun di dalam sumur sedalam 21 meter. Mereka adalah para penggali sumur yang tengah bekerja di wilayah Singojuruh.

Kecelakaan kerja ini terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, Kamis (5/2/2016). Sore itu Kusnipan (46), warga Dusun Kunir, Desa/Kecamatan Singojuruh hendak mengambil alat-alat penggalian yang tertinggal di dalam sumur usai menuntaskan pekerjaan. Setelah masuk kedalam sumur menggunakan tangga sepanjang 21 meter, tiba-tiba korban terjatuh ke dasar sumur.

Mengetahui itu, Wagiman (30), rekannya sesama penggali sumur yang tinggal di Dusun Kertosono, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, hendak menolong dengan masuk kedalam sumur. Naas, bukannya sukses mengangkat rekannya justru dia menyusul Kusnipan jatuh ke dalam dasar sumur.

Dumadi (40) yang kala itu berada di bibir sumur tak tega melihat dua kawannya terjatuh di dalam sumur. Warga Dusun Paiton, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, ini juga bermaksud menolong korban dengan menuruni anak tangga. Sialnya dia malah menjadi korban ketiga yang jatuh ke dalam dasar sumur.

Kejadian ini dilaporkan warga kepada aparat Polsek Singojuruh. Kapolsek Singojuruh AKP Supriyono langsung bergegas menuju lokasi untuk melakukan cek TKP. Lantaran medan yang sulit dan korban yang berjumlah tiga orang, evakuasi membutuhkan bantuan tim Basarnas Banyuwangi.

Tim evakuasi bahkan bertambah dari Basarnas Jember dan SAR independen. Tim gabungan ini baru melakukan aksi evakuasi 3 jam kemudian karena harus melakukan pemetaan dan menunggu kedatangan alat dari Jember.

“Evakuasi berjalan lama, sekitar 8 jam. Proses pengangkatan korban dimulai pukul 18.00 WIB, Jumat (5/2/2016) dan baru rampung pukul 02.00 WIB, Sabtu (6/2/2016) dinihari. Semua korban berhasil diangkat ke atas,” terangnya.

Sayangnya, kondisi mereka tidak bernyawa lagi. Diduga ketiganya tewas mengenaskan di dasar sumur akibat menghirup gas beracun. Proses evakuasi kuasi juga berjalan lama karena sumur yang dalam dan lebar yang sempit. (bwi/mbah heru)

 

Polsek Genteng Amankan 8 Pengguna Pil Koplo

6  bwiTribratanewsJatim.com: Delapan pengguna yang diduga pil trihexyphenidil alias pil koplo diamankan aparat Polsek Genteng bersama Satnarkoba Polres Banyuwangi. Mereka diamankan aparat saat menggelar pesta miras yang digabung dengan pesta pil ‘gedek’ di kediaman Muhammad Bubillah Yusuf (22), di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon.

“Ajang itu digelar sekitar pukul 23.00 WIB, Selasa (2/2/2016). Hasil penyidikan aparat, ternyata sang pemilik rumah ini masuk dalam salah satu jaringan peredaran narkoba yang ada di wilayah Genteng. Aparat lantas menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus ini,” ungkap Kapolsek Genteng Kompol Sumartono.

Selain itu, petugas juga menetapkan Kusnoto alias Pin, warga Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, sebagai tersangka. Dia merupakan salah satu pemasok obat daftar G jaringan Bubillah. Buktinya ada 223 butir trek dan uang tunai Rp  2.165.000 hasil penjualan obat. Usai diamankan, kedua pelaku langsung diserahkan kepada aparat Satnarkoba Polres Banyuwangi untuk dilakukan pengembangan.

“Dua tersangka ini sama-sama membeli barang dari IMA yang kini masih diburu,” tambahnya.

Sementara 6 orang lainnya, yakni GF (17) asli Kecamatan Tegalsari; MN (21), MY (21), dan KA (20) asal Kecamatan Genteng; RD (22) asal Kecamatan Gambiran; dan CD (21) warga Kecamatan Sempu hanya mendapat pembinaan dari aparat. Mereka adalah para pemuda yang saat itu tengah mengkonsumsi miras.

Kasatnarkoba Polres Banyuwangi AKP Agung Setya Budi menjelaskan, atas ulahnya Bubillah dan Pin dijerat aparat dengan UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan karena memiliki serta memasarkan sediaan farmasi jenis Trihexyphenidil yang tidak memenuhi standar persyaratan keamanan, khasiat maupun mutu seperti diatur dalam pasal 196 subsider pasal 197.

“Kedua pelaku sudah ditahan untuk mempermudah penyidikan,” terangnya, Kamis (4/2/2016). (bwi/mbah heru)

 Foto: barang bukti

 

Kapolres Banyuwangi Latih Nembak

6 nebak bwiTribratanewsJatim.com: Maraknya aksi teror terhadap kepolisian membuat jajaran Polres Banyuwangi meningkatkan kemampuan menembak. Kemahiran membidik sasaran dan melepas tembakan digelar saat latihan menembak di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar.

Asah kemampuan melepas timah panas ini tidak hanya khusus bagi para pejabat utama polres maupun kapolsek. Anggota biasa juga ikut serta dalam latihan ini. Anggota reserse kriminal dan Satuan Narkoba Polres Banyuwangi memang banyak mendominasi.

Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama juga mengikuti latihan ini. Di sini, para perwira sampai bintara mengolah kembali kemampuannya dalam melepas tembakan agar tepat sasaran.

“Belakangan ini polisi tengah menjadi target aksi teror kalangan radikal. Salah satu yang paling ramai menjadi perbincangan masyakarat adalah kasus peledakkan bom di kawasan Sarinah Jakarta dan penggerebekan bandar narkoba yang menewaskan satu anggota,” ungkap AKBP Bastoni Purnama.

6 nembak bwiBelajar dari peristiwa itu, personil Polri di Banyuwangi harus meningkatkan kemampuannya dalam memainkan senjata. Latihan itu untuk meningkatkan kemahiran agar tepat sasaran dan tidak meleset mengenai warga sipil tak berdosa.

“Semakin rutin belajar menembak semoga akurasi tembakan aparat kian akurat. Sehingga pelaku kriminal yang melakukan perlawanan saat dilakukan penangkapan bisa dilumpuhkan dalam satu tembakan,” tegasnya.

Kapolres menegaskan, wilayah Banyuwangi yang berbatasan dengan Bali merupakan salah satu pintu masuk di wilayah barat yang patut diamankan. Para pelaku teror bisa saja memanfaat semua celah untuk menyusup ke Pulau Dewata dan membuat ulah di sana.

“Selaku alat pengamanan negara kita punya kewajiban untuk mengamankan wilayah nusantara. Bali adalah bagian NKRI, bahkan menjadi pusat tujuan pariwisata dunia. Maka kita yang tinggal di Banyuwangi memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengamankan Negeri Seribu Pura dari ancaman pelaku teror,” tegasnya (bwi/mbah heru)

 

Pengedar Narkoba Dibekuk, 17,19 Sabu Gram Disita

6 bwiTribratanewsJatim.com: Pengedar sabu kelas kakap akhirnya dibekuk aparat Satnarkoba Polres Banyuwangi sekitar pukul 19.00 WIB, Kamis (4/2/2016). Dia bernama Yusuf Setyo Wibisono (44), tinggal di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Gambiran.

Pengedar SS ini ditangkap di Jalan Raya Desa Yosomulyo, tepatnya sebelah selatan Yos Cafe. Barang bukti berupa 35 paket sabu dengan berat kotor 17,96 gram atau netto 11,31 gram sukses diamankan aparat. Selain itu ada 1 timbangan digital, 1 bendel plastik klip,1 Hp Nokia X warna hitam dan 35 potongan sedotan juga disita.

Kasatnarkoba Polres Banyuwangi AKP Agung Setyobudi menjelaskan, tersangka Yusuf merupakan pengedar SS jaringan Nurhadi yang kini mendekam di Lapas Banyuwangi atas kasus yang sama.

“Bilangnya disuruh menjualkan. Perintah itu didapat melalui sambungan telepon,” ungkapnya.

Kini Yusuf  bakal menyusul rekannya, Nurhadi yang lebih dulu menempati rumah binaan. Hanya saja dia masih menjalani penahanan di Mapolres Banyuwangi untuk pendalaman  dan penyelesaian pemeriksaan kasusnya.

Selain menangkap pengedar serbuk putih, Satnarkoba juga meringkus pengedar trihexyphenidil 2,5 jam kemudian di Dusun Sukolilo, Desa Sukomaju, Kecamatan Srono. Rudi Wijaya (25), menjadi pelaku kedua yang tertangkap petugas selama Kamis malam.

Sebanyak 44.990 butir pil trek, 2  bendel plastik klip, 1 Hp Blackberry Apollo dan sejumlah barang lain diamankan sebagai bukti. Obat daftar G ini didapat tersangka dari pemasok berinisial HR yang tinggal di Jember. Adapun transaksi pil digelar melalui komunikasi telepon seluler.

“Uangnya dikirim melalui transfer. Begitu uang masuk barang lantas dikirim melalui jasa paket,” tambah AKP Agung.

Pengungkapan dua kasus ini menjadi yang terbesar selama awal 2015. Dua alat bukti yang disita cukup besar. Sebelumnya, 12 anggota Satnarkoba mendapat reward dari Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama lantaran sukses mengungkap puluhan ribu pil daftar G di wilayah Kalibaru. (bwi/mbah heru)

 

 

Polres Mojokerto ringkus Guru bimbel yang cabuli anak didiknya

Tribratanewsjatim.com - Nafsu syetan sudah merasuk kepada Guru bimbingan belajar (bimbel), MS alias Rehan (41) yang mencabuli tujuh anak didiknya, ia mengaku menyimpan 75 file video porno di dalam handphone miliknya. Tersangka mengaku juga memiliki video porno yang ia buat sendiri dengan model tersangka dan istrinya.

Kapolres Mojokerto, AKBP Budhi Herdi Susianto menginterogasi Tsk Rehan saat Press Release
Kapolres Mojokerto, AKBP Budhi Herdi Susianto menginterogasi Tsk Rehan saat Press Release

Kapolres Mojokerto, AKBP Budhi Herdi Susianto mengatakan, dari hasil penyelidikan diketahui di dalam handphone milik tersangka terdapat 75 file video porno. “Sementara di dalam laptop sudah tersangka hapus dan tinggal satu file video tak senonoh,” ungkapnya.

Masih kata Kapolres, pencabulan tersebut sudah dilakukan warga Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember ini sejak tiga tahun lalu atau sejak tersangka mendirikan lembaga bimbel di rumah kontrakannya di Desa Kedung Gede, Kecamatan Dlanggu. Video porno tersebut ditunjukan tersangka sebelum melancarkan aksinya.
“Tersangka mengaku tidak setiap hari melakukan aksi pencabulan terhadap anak didiknya. Jika tersangka menginginkannya, baru tersangka mencari sasaran yakni salah satu dari 20 anak didiknya. Yakni dengan cara menunjukan video tak senonoh kepada anak didiknya,” ibuhnya.

Modus kejahatannya, Tersangka akan memanggil salah satu anak didiknya setelah jam mengajarnya selesai. Sehingga aksi tersebut dilakukan tersangka saat anak didiknya yang lain sudah pulang mengikuti les yang diberikan oleh tersangka.

Kesempatan tersangka yang tinggal sendiri di kontrakannya. “Video tak senonoh yang ia download dari internet tersebut dilakukan sebagai senjata. Saat korban melihat video tersebut, tersangka langsung melakukan aksi cabulnya. Mulai dari meraba hingga menciumi korbannya. Tersangka juga mengaku membuat video porno sendiri dengan pemeran laki-laki tersangka sendiri,” jelasnya.

Video tersebut ada tiga file dengan durasi 12 menit yang diambil oleh tersangka sendiri. Kapolres mengaku masih mendalami kasus tersebut karena dimungkinkan korban lebih dari tujuh orang karena aksi tersebut terjadi sejak tiga tahun lalu dan baru terungkap. “Kita juga akan mendalami alasan perceraian tersangka. Apakah akibat perceraian tersebut tersangka trauma dengan perempuan dewasa sehingga tersangka lebih suka dengan anak-anak.

Rehan menikah tahun 2001 dan bercerai tahun 2009. Tersangka memiliki anak perempuan usia 13 tahun,” tegas kapolres. Sementara itu, tersangka yang penyandang difabel tersebut mengaku suka dengan anak-anak karena sering berkumpul dengan anak-anak. “Saya mengajar selama dua jam setelah mereka selesai sekolah dengan gaji Rp. 50 ribu per anak perbulan. Ada dua gelombang, untuk siswa SD dan SMP tapi tidak semua perempuan, ada laki-lakinya juga. Saya menyesal telah melakukan ini,” pungkas Rehan.(umam/sar)

Dor … Polwan Mojokerto tingkatkan kemampuan menembak

Tribratanewsjatim.com – Kemampuan harus sering dilatih untuk mendapatkan hasil maksimal saat bertugas dilapangan, sekitar 200 anggota Polres Mojokerto mengikuti latihan menembak di lapangan tembak Sekolah Polisi Negara (SPN) di Desa Pacing, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Dengan menggunakan dua jenis senjata, mereka dilatih ketangkasan dalam menembak.

IMG-20160204-WA0120Kabag Sumda Polres Mojokerto, Kompol Mustafa Al Haddar mengatakan, latihan menembak bagi para anggota bertujuan untuk meningkatkan profesional seluruh anggota Polres Mojokerto. “Khususnya dalam hal ketangkasan dalam menembak,” ungkapnya, Kamis (04/02/2016).

Masih kata Kabag Sumda, latihan menembak tersebut diperuntukkan bagi seluruh anggota Polres Mojokerto mulai dari pejabat tertinggi hingga Bintara atau Bripda. Menurutnya, kemahiran dalam menembak harus dimiliki oleh semua anggota tanpa terkecuali. “Latihan ini dilakukan 2 hingga 3 kali setiap tahunnya, dilaksanakan secara berjenjang dan berkesinambungan. Untuk hari pertama ini ada sekitar 200 personil yang mengikuti latihan tembak dengan dibekali masing-masing peluru sebanyak 25 butir peluru atau tergantung mahir tidaknya personil,” katanya. 

Ada dua jenis senjata api yang digunakan yakni senjata genggam (pistol) Jenis Reforper dan senjata laras panjang jenis s1 p2. Untuk senjata laras panjang khusus di gunakan anggota Polisi pengurai massa (Raimas), pistol di gunakan menembak jarak 15-25 meter sedangkan laras panjang 25-50 meter.” Untuk anggota Polwan baru, latihan menembak ini pertama kali mereka lakukan saat sudah resmi bertugas di Polres Mojokerto. Ada sekitar 30 Polwan yang ikut latihan menembak hari ini yang lainya masih melakukan tugas,” tegas Kompol Mustofa saat ditemui di lokasi latihan (umam/sar)